Senin, 31 Mei 2010

Hikayat
“ Raja Negeri “

Di suatu negeri antahbrantah, berdiri sebuah kerajaan yang dipimpin oleh seorang raja yang memiliki kegemaran berburu. Namun, saat berburu di suatu hutan, Ia mengalami kecelakaan. Jari kelingking sang raja terpotong oleh pisau yang begitu tajam karena kecerobohannya.
Raja pun meringis kesakitan dan merasa sangat sedih. Penasihat yang bersimpati itu seraya berusaha menghibur. Akan tetapi tak jua mampu mengobati duka sang raja.
Penasihat pun akhirnya berkata bahwa, apapun yang menimpa, patutlah kita syukuri sebagai sebuah peruntungan. Mendengar perkataan si penasihat, raja pun tak terima malah menjadi murka.
Karena terlalu murka, sang raja tak mengindahkan ampunan penasihatnya. Lantas, ia malah mengurung penasihat raja dengan alasan agar penasihat tersebut juga mau merasakan kemalangan itu. Penaishat raja itu terus meminta ampun. Namun, sang raja tak jua mengindahkannya. Akhirnya, Ia meninggalkan penaishatnya dirantai. Tinggallah tangisan penasihat tersebut dalam sayup.
Hitungan hari terlewati. Namun, kegemaran sang raja telah mendarah daging dan sulit untuk dilunturkan. Raja bersama penasihat barunya itu pergi ke hutan perbatasan negeri. Tak banyak orang yang mampu melewati hutan tersebut karena keangkerannya. Namun, niatan sang raja mau tak mau harus dilaksanakan. Berangkatlah sang raja dengan menunggangi kuda.
Sesampainya di tengah hutan, mereka beristirahat sejenak untuk melepas lelah. Tiba – tiba beberapa anak panah melesat mengenai kepala dan badan para punggawa. Sang Raja yang saat itu ketakutan, akhirnya memilih pergi meninggalkan punggawa yang mengerang kesakitan dan berpisah dengan pengawal yang bersenjata.
Kemudian, mereka berhadap hadapan dengan sekelompok suku primitif. tengkorak menghiasi kepala mereka sedang berkulit hitam legam. Tanpa menunggu lama, kawanan suku primitif ini menghunuskan tombak dan memukul mereka dengan beringas. Lantas, mereka berdua pingsan seketika.
Ketika tersadar, mereka sudah terikat kuat dan berada di sebuah goa. Tampak para penghuni sedang berjingkrak dibuai rasa mistis.
Dua orang pria mengangkat tubuh sang raja dan penasihatnya. Mereka berdua dimandikan. Setelah itu, si penasihat dilumuri dengan ramuan di sebuah tong di dekat kobaran api yang merah menyala. Tanpa menunggu lama penasihat itu dimasukkan ke dalam api tersebut.
Kini giliran sang raja. Namun, anehnya, seorang wanita tua berlari, menjerit dan mengoceh dengan bahasa yang tidak dikenal. Lalu tubuh sang raja diangkat dan dibawa keluar serta dijatuhkan dari tebing ke sebuah sungai di dasar tebing itu.
Kesokan harinya, tubuh sang raja ditemukan oleh seorang petain di negerinya. Ia menolong dan merawat sang raja hingga sadar. Baru setelah bebarapa lama, raja tersadar dan dapat menceritakan apa yang terjadi menimpa dirinya.
Didapatlah sebuah cerita bahwa ada sekelompok suku kanibal yang mulanya adalah manusia yang dikutuk oleh Dewa karena kesombongannya. Manusia yang akan dipersembahkan hanyalah manusia yang memiliki anggota tubuh yang lengkap. Bahkan lecetpun tak boleh ada.
Jaid, mungkin itulah yang menyebabkan sang Raja tak dapat dijadikan persembahan.
Lalu, sang Raja diantar pulang menuju istana oleh petani yang menolongnya tadi. Sesampainya di istana, ia memerintahkan untuk melepaskan penaishat lamanya. Ia pun menceritakan apa yang terjadi secara lengkap.
Seketika itu, si penasihat berlutut dan berterimakasih dan mengatakan bahwa jika raja tak memenjarakannya, mungkin ia sudah dijadikan tumbal. Kini kebahagiaan kembali menceriahkan keluarga besar raja dan rakyat.
Kini sang raja menajdi lebih arif dan bijaksana.


Novel Indonesia
“ Seventeen “

Dua geng SMU garuda yaitu The Caredox Girls yang mengaku sebagai kelompok cewek mandiri yang beranggotakan merpati, rindang, cintya dan harva serta Geng Cokol alias cowok kolot yang beranggotakan didom, rio, cacu, dan omet. Kedua koelompok ini selalu saling menjahili, hampir dua tahun mereka berseteru, tidak ada yang mau mengalah. Pada akhirnya timbullah keinginan dari rio untuk mendamaikan kedua kelompok ini. Akan tetapi, Rio mengurungkan niatnya, dia ingin mengambil kesempatan saat bertandang ke rumah merpati untuk menyatakan perasaan hatinya. Akhirnya, niat ingin mendamaikan berubah menjaid pertemuan yang menggabungkan dua komandan kelompok yang sedang berseteru.
Diceritakan seorang gadis bernama Susan yang berasal dari keluarga miskin. Ayahnya seorang pemabuk dan sering main judi. Ketika kehabisan uang, ia memanfaatkan kegadisan Susan anaknya untuk diperjual belikan kepada lelaki hidung belang yang menginginkan kepuasan. Sampai pada akhirnya Susan hamil dan berita tersebut diketahui oleh pihak sekolah. Berat menerima kenyataan, susan berniat untuk mengakhiri kehidupannya. Namun, merpati berhasil mencegahnya. Ia menghibur Susan untuk tetap terus berjuang menjalani kehidupan. Selama 9 bulan, Susan bersembunyi sampai pada akhirnya bayi nya pun lahir. Beruntung Susan karena masih ada lelaki yang mencintainya dengan tulus, mau menerima Susan apa adanya. Lelaki itu bernama dika. Akhirnya susan dan dika pun menikah di usia 17 tahun.


Novel Terjemahan
“ Harry Potter and The Half Blood Prince “
“ Harry Potter dan Pangeran Berdarah Campuran “

Harry mendadak unggul di kelas ramuan gara gara buku teks misterius milik Pangeran Berdarah Campuran. Di luar itu, Dumbledore menunjukkan kepada Harry sejumlah kenangan yang menyingkapkan masa lalu Voldemort, menjelaskan bagaimana Voldemort menjadi sosok yang sedemikian jahat.
Menurut perkiraan Dumbledore, voldemort telah membelah jiwanya menjadi tubuh bagian dan menyimpan enam diantaranya di dalam Horcrux. Dua Horcrux sudah hancur. Dumbledore mengajak Harry mengambil salah satu Horcrux yang masih ada, locket Salazar Slytherin. Karena meminum ramuan yang melindungi locket itu, kondisi Dumbledore menjadi sangat lemah.
Sekembali ke Hogwarts, para pelahap maut telah memporak porandakan sekolah itu. Draco malfoy yang membuka pintu bagi mereka melalui sebauh lemari ajaib. Draco sendiri mesti menjalankan misinya membunuh Dumbledore, namun ia ragu ragu. Snape muncul dan membunuh Dumbledore, lalu meninggalkan Hogwarts setelah menyatakan bahwa dirinyalah si pangeran berdarah campuran itu.



1. Identifikasi Unsur Intrinsik

Hikayat
“ Raja Negeri “

Tema
Ketidakbijaksanaan orang
Penokohan
a. Sang Raja; tidak bijaksana, memperlakukan orang semena – mena.
b. Penasihat pertama; bijaksana, mau mensyukuri apapun yang terjadi
c. Penasihat kedua; penurut
d. Suku primitif; jahat, suku kanibal
e. Petani; baik hati, huka menolong
Latar
Kerajaan, goa, hutan rimba, rumah petani
Alur
Maju ( Progresif )
Sudut Pandang
Sudut Pandang Orang Ketiga
Amanat
Hendaknya setiap orang mau mensyukuri apaun yang terjadi kepada kita, sebagai sebuah peruntungan


Novel Indonesia
“ Jalan Tak Ada Ujung ”

Tema
Cinta dan kehidupan seorang gadis yang bernasib malang.
Penokohan
a. Merpati; jahil, usil, cuek, perhatian
b. Rindang; lucu, keras
c. Cintya; setia kawan, suka jahil
d. Harva; penakut, cuek, lemot
e. Rio; cool, kalem, konyol
f. Omet; penakut, polos
g. Didom; penakut, humoris, jahil
h. Cacu; jeli, meledek, penakut
i. Susan; misterius
j. Dika; tulus
k. Didi Rabbani; kutu buku, culun
l. Gaga; setia kawan
m. Papa maman; perhatian dan bijaksana
n. Papa dan Mama Merpati; baik, perhatian dan bijaksana
o. Kak Yudha; humoris, perhatian
p. Mbok misem; rajin
q. Papa rindang; humoris
r. Mama Rindang; sensitive, perhatian
s. Ayah Susan; kejam, keras
t. Ibu Susan; penyayang
u. Ari; baik, perhatian, setia kawan
v. Tante wina; baik, jujur
Latar
Rumah Merpati, SMU Garuda ( kelas, kantin, BP ), rumah Susan, Rumah Rindang, studio band, SMU Pancasila, di jalan, Food Court.
Alur
Campuran, maju
Sudut Pandang
Orang ketiga
Amanat
Rasa cinta dan ketulusan hati mampu mengatasi segala kesulitan bahkan kematian sekalipun.


Novel terjemahan
“ The Harry Potter ”

Tema
Kebaikan Melawan Kejahatan
Penokohan

a. Harry Potter; berani, bijaksana, setia kawan
b. Hermione; pintar, cerdas
c. Ron Weisley; setia kawan
Latar
Hogwarts, Dunia Sihir
Alur
Campuran

Sudut Pandang
Orang Ketiga

Amanat
Kebaikan selalu mengalahkan kejahatan
LEGENDA TENGARAN

Pemerintahan desa Kaliwaru, konon dimulai sekitar tahun 1800 bila legenda ini tepat, maka pemerintahan desa Kaliwaru atau sekarang dikenal desa Tengaran diawali pada masa perjuangan Nyi Ageng Serang melawan penjajahan Hindia Belanda. Pada masa itu yang memimpin desa Tengaran sebagai akuwu atau kepala desa adalah Ki Tengaran. Beliau sangat bijaksana tahu akan kebutuhan rakyatnya, Kehidupan masyarakat pada saat itu sangat tentram dan damai. Bila rakyatnya mendapat gangguan dari manapun termasuk begal, rampok atau gangguan yang lain, Ki Tengaran akan tampil di depan membela rakyatnya, Ia terkenal sakti mandra guna. Ibarat ora tedas tapak paluning pande sisaning gurindo, tinatah mendat jinoro menter ditembak lakak - lakak di bedil mecicil artinya seseorang yang tidak mempan terkena senjata tajam atau senapan. Selain itu Ia juga tabib, dimana bila ada orang yang sakit atau terkena guna-guna tentu larinya ke Ki Tengaran. Maka tidak mustahil Ia sangat terkenal sampai di ibu kota pemerintahan.
Ilmu kesaktian itu ia dapatkan dari Umbul Tirto yang terdapat di ujung desa ,dimana memang tempat itu banyak mengeluarkan aura untuk kesaktian dan penyembuhan.Ki Tengaran mendapatkan ilmu itu dengan jalan laku batin, tirakat, tidak tidur dan kungkum, kesemuanya itu mohon kepada gusti Allah agar mendapat ridlo - Nya. Pepatah mengatakan “ Pucuk gunung tidak akan bisa kita taklukkan mana kala tanpa mendakinya” Itulah yang menjadi tekat KiTengaran dalam memperdalam ilmunya.
Suatu ketika ibu kota kerajaan mendapat gangguan pencuri yang mengambil pusaka keraton yaitu Kyai Kurbakur. Pusaka itu sebuah keris luk tiga belas dari pendok sampai ujung berlapis emas. Semua punggawa keraton sudah di kerahkan untuk mencarinya namun apa daya usahanya nihil belaka. Maka sang rajapun mengadakan sayembara untuk mendapatkan pusaka itu kembali. Bila siapapun yang dapat menemukannya akan diberi hadiah mas inten rojo brono. Termasuk akan minta apapun akan di beri. Sayembara itu tedengar sampai di telinga Ki Tengaran. Maka bergegaslah Ia ke ibu kota kerajaan untuk mengikuti sayembara dengan tekat mengembalikan pusaka tersebut ke kerajaan.
Singkat cerita Ki Tengaran bisa menemukan pencuri yang mengambil pusaka keraton. Pencuri itu tiada lain Ki Gologito dari gunung Merbabu yang sudah malang melintang di kalangan hitam. Maka terjadilah perkelaian yang luar biasa. Dengan ilmu Brojo mustinya, dimana ilmu itu bisa menghancurkan batu sebesar gubug. Ki Tengaran bisa menaklukkan Ki Gologito dengan mudahnya. Pusaka Keraton yang berada di tangan Ki Gologito bisa direburtnya.
Namun Tuhan menentukan lain pusaka yang berada di tangan Ki Tengaran jatuh ke tanah menjadi ular besar. Anehnya ular tersebut bisa bicara bahwa ia akan di kembalikan ke keraton tidak mau, bahkan makin lama menjadi membesar. Ki Tengaran khawatir ular itu membahayan masyarakat maka ular itu di sabet dengan sodo lanang. Meninggallah ular tersebut. Sekarang meliuk liuk dari sebelah timur jembatan sungai serang sampai di dusun Poncol. Lidahnya menjadi sawah di ujung desa. Sampai sekarang konon ceritanya orang dusun Poncol Desa Klero tidak berani membuat sumur karena yang keluar bukannya air tetapi darah. Kembali ke Ki Tengaran yang termenung melihat ular itu maka lapor ke raja yang mengadakan sayembara, menceriterakan apa yang terjadi dengan gamblang. Maka sabda pendita ratu bila dusun Kaliwaru itu menjadi ramai maka desa itu dinamakan Tengaran.
SINGA dan BURUNG PELATUK

Pada zaman dahulu kala, dihutan yang sangat lebat, hiduplah seekor Burung Pelatu. Ia merupakan jelmaan dari Bodhisatwa yang sedang menjalani hdiup didunia, iabertempat tinggal di atas pohon besar seorang diri. Burung pelutuk tersebut amatlah baik budi pekertinya, suka menolong sesama makhluk, itulah tujuan utama hidupnya. Hal tersebut bukan merupakan tujuan yang ringan, sebab, dalam menunaikan darma baktinya, ia harus selalu siap memberikan pertolongan kepada sesama makhluk yang sedang mengalami kesulitan atau penderitaan.
Pada suatu hari ketika sedang terbang kesana kemari, dilihatnya seekor Singa Jantan yang tampaknya sedang menderita kesakitan dan tidak dapat berbuat apapun untuk dapat meringankan rasa sakitnya itu. Sambil mengerang ngerang Singa Jantan meraung kesakitan, “ Aduh … aduh … tolong….” Burung Pelatu
“ Tolong … tolong…, ‘’ erangnya lagi. Mendengar erangan Singa Jantan tersebut, Burung Pelatu yang tidak mempunyai rasa takut sedikitpun terhadap binatang lain, bahkan kepada singapun ia tak gentar, lalu dihampirinya singa itu dengan penuh rasa kasihan. Lalu ia bertanya, menegenai apa yang terjadi pada singa malang itu, dengan suara terbata bata karena kesakitan, ia pun tak bisa berkata kata apapun selain erangan meminta pertolongan. Singa Jantan akhirnya bercerita bahwa ia dan kawannya barusaja menikmati daging rusa dalam pestanya, sebelum akhirnya salah satu tulang yang tajam telah tersangkut di dalam tenggorokannya dan tidak dapat di keluarkan sehingga Singa Jantan merasakan sakit bukan kepalang.
Ini adalah kesempatan bagi Burung Pelatu untuk menjalankan darma baktinya, dan kesempatannya tak ia lewatkan begiti saja. Burung Pelatu pun mencoba membantu dengan meminta kepada singa untuk membuka mulutnya lebar lebar. Setelah itu, ia mondar mandir mencari sebilah kayu untuk mengeluarkan tulang di dalam tenggorokannya. Kayu tersebut diletakkannya di selal sela mulut agar tetap terbuka.
Dengan perlahan, Burung Pelatu masuk ke dalam mulut si singa seraya mengambil tulang yang tersangkut di tenggorokan singa tersebut. Akhirnya ia pun berhasil mengeluarkan tulang yang cukup besar dari dalam tenggorokan Singa Jantan, Singa Jantan pun merasa sangat lega akan pertolongan sang Burung Pelatu. Tak lupa, Singa Jantan pun mengucapkan terimakasih yang sebesar besarnya atas segala pertolongan yang Burung Pelatu berikan.
Setelah sekian lama peristiwa itu terjadi, pada suatu ketika Burung Pelatu bertemu kembali dengan Singa Jantan yang pernah ditolongnya. Singa Jantan terlihat sedang asyik menyantap daging rusa yang baru saja ia tangkap. Burung Pelatu berharap Singa Jantan masih ingat kepadanya dan mau memberikan sedikit makanannya kepada butrung peltuk yang merasa sangat kelaparan.
Tetapi, alangkah kagetnya, tanpa menolehsdikitpun Singa Jantan terus saja menikmati makanannya dan berpura pura tidak tahu serta tidak kenal dengan Burung Pelatu itu. Walaupun bukan sifatnya untuk meminta minta, tetapi karena tidak kuat menahan lapar, terpaksa ia berbuat demikian. Namun singa tetap saja tidak mau memberikan sedikit dagingnya untuk Burung Pelatu dengan segala alasan.
Alangkah kecewa dan malunya Burung Pelatu itu, bukan karena permintaannya di tolak, namun kerena tabiat singa itu yang kasar dan sama sekali tidak mempunyai rasa terima kasih.
Dalam perjalanan, Singa Jantan bertemu dengan seorang dewa hutan yang mendengar semua kejadian yang menimpa Burung Pelatu. Dewa bertanya mengapa Burung Pelatu tidak mencuri dagingnya atau mematuknya. Namun, burng peltuk menjawab bahwa ia tak mau balas dendam, hanya karena permintaan makanan yang ditolak. Dewa pun memuji burung peltuk akan kata katanya yang bijak dan berbudi tersebut.
- Pandavas -

Pandudewanata King is the son of the king Astina Abiyasa Begawan. He is the father of the Pandavas. Consists of Puntadewa Pandavas, Bhima, Arjuna, Nakula and Sadewa. Puntadewa, Bhima, and Arjuna was born from the consort of Goddess Kunthi, whereas sadhewa Nakula and the twins were born from Madrim empress. King enthroned diastina pandudewanata shortly. Padasuatu day, he was taken by the gods with his rough body for making errors, is the time to hunt the forest had been mistakenly killed two male deer that actually comes from a pastor and his wife kindama receipt. Goddess madirim follow her husband, so that since then the Pandavas nurtured by their mother goddess kunthi. After the death of government pandudewanata dastarastra Astina submitted to the elder brother of King Pandu Dewanata who are blind, because the son of the eldest pandudewanata prabu immature. Raden Destarastra is the older sister of pandudewanata. He is the father of Kurawa numbering a hundred people. Although the eldest son of Destarastra Abiyasa Begawan, however, he was made king Astina because both eyes blind. Pandudewanatalah his brother who later became king succeeded his father Astina. So, next Astina throne should be handed over to the Pandavas who is entitled to receive it. But, Destarastra Astina then handed the throne to his son, Suyudana. Destarastra own later life as a pastor and as a royal advisor. Pandudewanata Puntadewa is the oldest child. He was very patient, never angry, so she bled white people say he almost never fight, and therefore are always far away from danger. He has aimat form of a letter known as an amulet Kalimasada. Son of pilot keuda named Bhima. Huge body, has thumbnails powerful and infinitely sharp exceed su \ ebuah weapons though. He never uses soft language to anyone except to the gods Ruci. He is a symbol of the five bersaudara.ia Pandavas always uphold the honor and uphold the motto of all die one death. Son of Arjuna is the third pilot. He is a very powerful. She likes to be imprisoned. Partly due to her supernatural powers Lord Vishnu. He can fly and can menghinlang diawan in bright locations. He has a very handsome face. Son of pilot twins fourth and fifth, that is named Nakula and Sadewa. The two knights are also powerful. Adherence to the third brother never wavered.
Merti Village (Clean Village) Merti village is a general phenomenon that occurs in the culture of an agrarian society. Merti village is a heritage from the old noble values of our culture, which suggests that people become a natural circuitry. This ritual is also intended as a form of public appreciation for nature which support them. This ritual, it is routinely done by people in rural areas who still believe in the existence pamali. What if there where people do not implement the Merti village, there would be something that is not desired. Because Part of the local community, still believe in supernatural beings village watchman. Merti village in the community, a lot of variety, someone has to do at the cemetery or with the following tahlilan typical cone shaped, nor do the clean village with wayangan held all night long. Local people believe, given it will bring prosperity to the village as well as societies around the village. Merti village is essentially an activity that became a symbol of gratitude to the gods of the people all the gifts he gives. The gift can be anything, like Rizki, safety or well harmony and tranquility. More than that, Merti village also as a place where residents can forge ties, mutual respect, and mutual slira tepa. As we all know those three things together that have started are rarely expressed in the community. Gratitude to God as well as one of his goals, as well as an embodiment of human harmony with nature. During his life, humans have coexisted with nature and take many meteri from nature. Tengaran villages in the region, particularly in Tengaran Kulon, we used to call, conducted by wayangan Merti village. This tradition has been carried out since tens or even hundreds of years ago. Locals believe this will bring blessings, prosperity, and also eliminate the negative things inherent in the village. Events held every year, precisely the last week in the month of Sura, it has a lot of zest siphon viewers from many circles and local levels. Some of them really want to follow the rituals Merti aim of this village, but no less well that just want to watch a shadow puppet performance as entertainment only. This village cleanup event done for two days. The first day, the holding of a special ritual rituals associated directly with subtle beings. The offerings placed at several points, among others, which is considered kermat trees, rivers or springs, wells, limits - limits the village, every intersection, and every junction in the region. It is led by smart people. He is considered the village elders and capable of controlling the energy in place of a shrine. In other words, belief in spirits or commonly called animism is still stuck in the middle - the middle of society, although in this global era. The experience of having experienced writer, that when they want to perpetuate the tree that wants to be an offering, the camera arrived - arrived to death without provocation. Repeatedly performed, but the result was nil. Net net the show continued with the surrounding environment. All citizens in great throng to take the appliance hygiene. This is not related to the occult, but only for the cleanliness of the village. Since the cleanliness of some of the faith. Entering the second day, which means leading to the top event, ie digelarnya pementasa puppet. Starting at around 21:00 pm. However, since the afternoon, residents are busy preparing a place. Not a few others just stood watching the preparation of the wayang kulit performance. For an event like this Merti village, each family giving tuition as much as Rp. 15. 000, - or even more. Uniquely, puppet characters Dewa Ruci always decorate the leather puppet stage from year to year, for a ritual Merti village. "We must uphold the culture that has been embedded in our hearts and we continue to preserve these customs that have been bequeathed by our predecessors" said one filler seoang event. In this capacity as a Muslim writer, rituals associated with spirits, offerings, and animism, very against the rule. However, we must not think negatively, that the event is also a form of cultural awareness that if we are not preserved, will be eroded by the time of extinction. Nobody can deny, that western culture has been embedded in most communities in Indonesia today. If not us who maintain and preserve, who else?

Selasa, 25 Mei 2010

SINGA dan BURUNG PELATUK

Pada zaman dahulu kala, dihutan yang sangat lebat, hiduplah seekor Burung Pelatu. Ia merupakan jelmaan dari Bodhisatwa yang sedang menjalani hdiup didunia, iabertempat tinggal di atas pohon besar seorang diri. Burung pelutuk tersebut amatlah baik budi pekertinya, suka menolong sesama makhluk, itulah tujuan utama hidupnya. Hal tersebut bukan merupakan tujuan yang ringan, sebab, dalam menunaikan darma baktinya, ia harus selalu siap memberikan pertolongan kepada sesama makhluk yang sedang mengalami kesulitan atau penderitaan.
Pada suatu hari ketika sedang terbang kesana kemari, dilihatnya seekor Singa Jantan yang tampaknya sedang menderita kesakitan dan tidak dapat berbuat apapun untuk dapat meringankan rasa sakitnya itu. Sambil mengerang ngerang Singa Jantan meraung kesakitan, “ Aduh … aduh … tolong….” Burung Pelatu
“ Tolong … tolong…, ‘’ erangnya lagi. Mendengar erangan Singa Jantan tersebut, Burung Pelatu yang tidak mempunyai rasa takut sedikitpun terhadap binatang lain, bahkan kepada singapun ia tak gentar, lalu dihampirinya singa itu dengan penuh rasa kasihan. Lalu ia bertanya, menegenai apa yang terjadi pada singa malang itu, dengan suara terbata bata karena kesakitan, ia pun tak bisa berkata kata apapun selain erangan meminta pertolongan. Singa Jantan akhirnya bercerita bahwa ia dan kawannya barusaja menikmati daging rusa dalam pestanya, sebelum akhirnya salah satu tulang yang tajam telah tersangkut di dalam tenggorokannya dan tidak dapat di keluarkan sehingga Singa Jantan merasakan sakit bukan kepalang.
Ini adalah kesempatan bagi Burung Pelatu untuk menjalankan darma baktinya, dan kesempatannya tak ia lewatkan begiti saja. Burung Pelatu pun mencoba membantu dengan meminta kepada singa untuk membuka mulutnya lebar lebar. Setelah itu, ia mondar mandir mencari sebilah kayu untuk mengeluarkan tulang di dalam tenggorokannya. Kayu tersebut diletakkannya di selal sela mulut agar tetap terbuka.
Dengan perlahan, Burung Pelatu masuk ke dalam mulut si singa seraya mengambil tulang yang tersangkut di tenggorokan singa tersebut. Akhirnya ia pun berhasil mengeluarkan tulang yang cukup besar dari dalam tenggorokan Singa Jantan, Singa Jantan pun merasa sangat lega akan pertolongan sang Burung Pelatu. Tak lupa, Singa Jantan pun mengucapkan terimakasih yang sebesar besarnya atas segala pertolongan yang Burung Pelatu berikan.
Setelah sekian lama peristiwa itu terjadi, pada suatu ketika Burung Pelatu bertemu kembali dengan Singa Jantan yang pernah ditolongnya. Singa Jantan terlihat sedang asyik menyantap daging rusa yang baru saja ia tangkap. Burung Pelatu berharap Singa Jantan masih ingat kepadanya dan mau memberikan sedikit makanannya kepada butrung peltuk yang merasa sangat kelaparan.
Tetapi, alangkah kagetnya, tanpa menolehsdikitpun Singa Jantan terus saja menikmati makanannya dan berpura pura tidak tahu serta tidak kenal dengan Burung Pelatu itu. Walaupun bukan sifatnya untuk meminta minta, tetapi karena tidak kuat menahan lapar, terpaksa ia berbuat demikian. Namun singa tetap saja tidak mau memberikan sedikit dagingnya untuk Burung Pelatu dengan segala alasan.
Alangkah kecewa dan malunya Burung Pelatu itu, bukan karena permintaannya di tolak, namun kerena tabiat singa itu yang kasar dan sama sekali tidak mempunyai rasa terima kasih.
Dalam perjalanan, Singa Jantan bertemu dengan seorang dewa hutan yang mendengar semua kejadian yang menimpa Burung Pelatu. Dewa bertanya mengapa Burung Pelatu tidak mencuri dagingnya atau mematuknya. Namun, burng peltuk menjawab bahwa ia tak mau balas dendam, hanya karena permintaan makanan yang ditolak. Dewa pun memuji burung peltuk akan kata katanya yang bijak dan berbudi tersebut.